KASIH SAYANG TAK TERGANTIKAN
Matahari yang
menyinari di pagi hari dan bulan bersinar pada malam hari. Namun, hanya ada satu
cahaya yang selalu bersinar di hatiku. Cahaya itu adalah kasih sayang seorang
ibu kepada insan permata.
Kasih sayang
yang tak kenal lelah, tanpa mengharapkan balasan dan tak akan terbalas. Bahkan
kasih sayang seorang ibu mampu merelakan nyawanya, demi sang anak akan tetap
bertahan hidup. Sadarkah seorang anak akan kasih sayang seorang ibu yang begitu
besar?
Kehadiranku di
dunia ini berasal dari benih-benih cinta antara ibu dan ayah. Benih-benih yang
menghasilkan berupa tetesan mani, menjadi seguumpal darah, hingga segumpal
daging dan segumpal daging membungkus tulang. Kemudian Tuhan meniupkan ruh kepada
setiap insan.
Sembilan bulan
ibu mengandung. Saat itu pun aku berada di dalam rahimnya. Ibu melalukan
pengorbanan dengan susah payah, melawan rasa mual yang membuat nafsu makannya
berkurang dan perutnya semakin membesar. Sehingga berat badannya melonjak.
Ketika lelah
menghampirinya dalam setiap langkah, ibu pun menghelakan nafas dan butir-butir
keringat yang bercucuran penuh di keningnya. Sembari menghilangkan rasa lelah,
tangan yang lembut itu mengelus perut besarnya dengan penuh kasih sayang dan
iringan doa, hingga sampai saat waktunya tiba.
Erangan,
jeritan, dan tangisan kesakitan sampai pengorbanan nyawa, ibu melakukannya
untukku sampai terlahir di dunia ini. Itu semua terjadi berkat keikhlasan dan
kesabarannya.
Seorang bayi
suci tanpa dosa lahir dari rahim seorang ibu yang telah berjuang. Terdengar
suara tangisan bayi yang begitu kuat. Nampak senyuman kecil mengembang di
bibirnya dengan terbaring lemas di atas tempat tidur. Ayahku segera mengumandangkan
adzan dan iqomah di telangiku.
Seiring dengan
berjalannya waktu, ibu mendidikku hingga tumbuh besar. Terlintas dalam pikiranku,
kehidupan ini seperti panggung sandiwara. Namun hanya ada satu tokoh yang bisa
berperan melakukan apa saja untuk diriku. Tokoh itu adalah ibuku.
Ibuku telah
banyak menjalani peran di kehidupan ini dalam mendidik anak-anaknya. Salah satu
peran ibuku yaitu bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya.
Ibuku selalu
setia menemaniku saat sakit. Kehadiran rasa sakit telah merenggut kecerian buah
hatinya. Hal ini membuat hati ibuku hancur berkeping-keping, melihat tubuh
anaknya terbaring lemas tak berdaya di tempat tidur karena penyakit yang
menjangkitnya. Siang dan malam, hati dan pikiran ibuku terambang oleh kegundahan
dan kekhawatiran.
Saat
itu, aku tak lagi berdaya untuk menatap wajah ibuku. Air mata tak lagi
terbendung, kini telah tumpah ruwat membasahi pipinya. Hanya seuntai kata
“maaf” yang terucap pada bibirku karena telah membuat ibuku menangis.
Tidak hanya
saat sakit ibuku menemaniku, tetapi dalam keadaan senang pun ibu tetap selalu
berada di sisi dan dalam hatiku.
Selain itu, ibuku
menjadi sosok pendengar setia. Telinganya selalu bersedia mendengarkan curhatan
isi hatiku, entah itu kesenangan ataupun keluh kesah yang kurasakan. Lain
halnya dengan ibuku, tidak pernah sedikit pun telingaku mendengar curahan keluh
kesah hatinya yang terlontar dari
mulutnya.
Bahkan ibuku dapat
menahan isi hatinya akan lelah mengasuh keempat anaknya. Nampak jelas kerutan
di dahinya, bertanda ia lelah karena ibuku yang semakin menua. Namun, kantung mata
yang menghitam pun masih mampu menahan bendungan air mata yang tak ingin
menunjukan kesedihan pada anaknya.
Ibuku tidaklah
hanya menemani dan pendengar setia bagiku. Akan tetapi, ia juga menjadi
penasehat, memberikan contoh prilaku dan sikap yang baik dalam mendidik anaknya
dengan penuh kelembutan hati dan kasih sayangnya.
Inilah ibuku
yang sangat kucinta, sahabatku sepanjang masa. Tak ada yang bisa menggantikan
posisimu di dalam hatiku. Engkau selalu memberi kasih sayang yang tak pernah
putus asa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar