Selasa, 20 September 2016

KASIH SAYANG TAK TERGANTIKAN
Matahari yang menyinari di pagi hari dan bulan bersinar pada malam hari. Namun, hanya ada satu cahaya yang selalu bersinar di hatiku. Cahaya itu adalah kasih sayang seorang ibu kepada insan permata.
Kasih sayang yang tak kenal lelah, tanpa mengharapkan balasan dan tak akan terbalas. Bahkan kasih sayang seorang ibu mampu merelakan nyawanya, demi sang anak akan tetap bertahan hidup. Sadarkah seorang anak akan kasih sayang seorang ibu yang begitu besar?
Kehadiranku di dunia ini berasal dari benih-benih cinta antara ibu dan ayah. Benih-benih yang menghasilkan berupa tetesan mani, menjadi seguumpal darah, hingga segumpal daging dan segumpal daging membungkus tulang. Kemudian Tuhan meniupkan ruh kepada setiap insan.
Sembilan bulan ibu mengandung. Saat itu pun aku berada di dalam rahimnya. Ibu melalukan pengorbanan dengan susah payah, melawan rasa mual yang membuat nafsu makannya berkurang dan perutnya semakin membesar. Sehingga berat badannya melonjak.
Ketika lelah menghampirinya dalam setiap langkah, ibu pun menghelakan nafas dan butir-butir keringat yang bercucuran penuh di keningnya. Sembari menghilangkan rasa lelah, tangan yang lembut itu mengelus perut besarnya dengan penuh kasih sayang dan iringan doa, hingga sampai saat waktunya tiba.
Erangan, jeritan, dan tangisan kesakitan sampai pengorbanan nyawa, ibu melakukannya untukku sampai terlahir di dunia ini. Itu semua terjadi berkat keikhlasan dan kesabarannya.
Seorang bayi suci tanpa dosa lahir dari rahim seorang ibu yang telah berjuang. Terdengar suara tangisan bayi yang begitu kuat. Nampak senyuman kecil mengembang di bibirnya dengan terbaring lemas di atas tempat tidur. Ayahku segera mengumandangkan adzan dan iqomah di telangiku.
Seiring dengan berjalannya waktu, ibu mendidikku hingga tumbuh besar. Terlintas dalam pikiranku, kehidupan ini seperti panggung sandiwara. Namun hanya ada satu tokoh yang bisa berperan melakukan apa saja untuk diriku. Tokoh itu adalah ibuku.
Ibuku telah banyak menjalani peran di kehidupan ini dalam mendidik anak-anaknya. Salah satu peran ibuku yaitu bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya.
Ibuku selalu setia menemaniku saat sakit. Kehadiran rasa sakit telah merenggut kecerian buah hatinya. Hal ini membuat hati ibuku hancur berkeping-keping, melihat tubuh anaknya terbaring lemas tak berdaya di tempat tidur karena penyakit yang menjangkitnya. Siang dan malam, hati dan pikiran ibuku terambang oleh kegundahan dan kekhawatiran.
Saat itu, aku tak lagi berdaya untuk menatap wajah ibuku. Air mata tak lagi terbendung, kini telah tumpah ruwat membasahi pipinya. Hanya seuntai kata “maaf” yang terucap pada bibirku karena telah membuat ibuku menangis.
Tidak hanya saat sakit ibuku menemaniku, tetapi dalam keadaan senang pun ibu tetap selalu berada di sisi dan dalam hatiku.
Selain itu, ibuku menjadi sosok pendengar setia. Telinganya selalu bersedia mendengarkan curhatan isi hatiku, entah itu kesenangan ataupun keluh kesah yang kurasakan. Lain halnya dengan ibuku, tidak pernah sedikit pun telingaku mendengar curahan keluh kesah  hatinya yang terlontar dari mulutnya.
Bahkan ibuku dapat menahan isi hatinya akan lelah mengasuh keempat anaknya. Nampak jelas kerutan di dahinya, bertanda ia lelah karena ibuku yang semakin menua. Namun, kantung mata yang menghitam pun masih mampu menahan bendungan air mata yang tak ingin menunjukan kesedihan pada anaknya.
Ibuku tidaklah hanya menemani dan pendengar setia bagiku. Akan tetapi, ia juga menjadi penasehat, memberikan contoh prilaku dan sikap yang baik dalam mendidik anaknya dengan penuh kelembutan hati dan kasih sayangnya.

Inilah ibuku yang sangat kucinta, sahabatku sepanjang masa. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu di dalam hatiku. Engkau selalu memberi kasih sayang yang tak pernah putus asa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar