Sabtu, 29 Oktober 2016

Gejala TBC pada Remaja

Bukan virus, bakteri, ataupun racun yang mematikan. Tetapi, hanyalah masalah sosial. Inilah yang sering muncul terjadi di kalangan remaja.

Sebenarnya gejala ini bisa saja terjadi disemua kalangan, tetapi lebih sering terjadi di kalangan remaja bukan? Masa remaja adalah masa-masa yang sangat rentan akan percintaan, di mana seseorang ingin memiliki dan dimiliki oleh orang yang ia cintai. Namun, hal itu dapat menyebabkan TBC (Tekanan Batin Cinta).
Timbulnya gejala TBC berawal dari asmara, cinta tak terbalas, putus cinta, atau dikhianati oleh pasangannya, bahkan pelecehan seksual sekalipun. Gejala ini dapat menyebabkan beberapa perubahan kondisi seseorang. Akan tetapi, gejala TBC yang terlalu berlebihan juga dapat menimbulkan kematian.
Berikut ini agar kita dapat mengetahui gejala TBC yang terjadi pada remaja.
1) Sedih Tanpa Sebab
Entah apa yang membuatnya merasa sedih, muram, terpuruk, mudah depresi dan bisa kehilangan mood yang baik, karena selalu memikirkan dan mencemaskan seseorang, yang pada kenyatanya ia bukan miliknya.
2) Sensitif
Tidak sedang datang bulan, atau tidak sedang menonton film drama korea yang sad ending. Tampak rawut wajah ketus, murung, dan suka merasa kecewa, marah, gelisah, malas, dan tidak termotivasi. Tak hanya itu, bahkan untuk bergerak atau berbicara lebih perlahan daripada biasanya.
3) Perubahan Pola Hidup
Tak sedikit anak remaja yang mengalami perubahan saat gejala ini muncul, seperti kebiasaan tidur (tidur terlalu banyak atau sedikit), selera makan (makan terlalu banyak atau sedikit), dan berat badan  (berat badan bertambah atau berkurang).
4)  Tidak Fokus
Terlalu banyak memikirkan atau membayangkan wajah atau pengalaman masa lalu bersamanya, sehingga menghilangkan konsentrasi dan fokus dalam mengerjakan sesuatu atau mengganggu aktivitas.
5)  Kurangnya Rasa Percaya Diri
Sering merasa terabaikan dengan sikap yang acuh tak acuh terhadap dirinya, sehingga dirinya merasa kurang percaya diri untuk melakukan hal sesuatu.
Dengan demikian, kita dapat mengetahui gejala tekanan batin cinta yang dialami oleh semua kalangan, terutama anak remaja.

Kamis, 22 September 2016

Andai Aku Menjadi Pemilik Media

Setiap orang pastinya pernah mengandai menjadi siapa pun dan apa pun itu. Akan tetapi, tak pernah sedikit pun terlintas dibenak saya untuk menjadi pemilik media. Apakah mungkin saya bisa mewujudkannya?. Untuk mewujudkannya dengan bermodal suatu tekad yang kuat, kejujuran, keikhlasan, komunikasi yang baik, memperbanyak relasi dengan orang lain, dan memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas.
Keberhasilan sebuah media dapat dilihat dari visi, misi, rancangan kerja, sumber daya modal dan manusia, keterampilan profesional, motivasi dan insentif. Jika salah satunya tidak berjalan lancar maka bisa terjadi pengembangan media tersebut tanpa arah, tersendat-sendat, tidak efektif, lambat dan tidak kompetitif, keragu-raguan, dan frustasi.
Andai saya menjadi pemilik media, pastinya saya menjadi orang penting yang memiliki kekuasaan dan tanggung jawab besar untuk menaungi keseluruhan aktivitas yang berada di media tersebut. Akan tetapi, tetaplah menjadi media yang independen, tidaklah berpihak pada siapapun itu dalam program acara maupun berita, agar pembaca atau pemirsa tetap percaya dengan media tersebut. Saat ini, kekuasaan pemilik media lebih mengutamakan reputasi sang pemilik dalam hal politik maupun bisnis sehingga media tersebut tidaklah lagi berimbang.
Andai saya menjadi pemilik media, akan menerapkan komunikasi yang baik dalam menyampaikan atau menyiarkan informasi yang disampaikan kepada pembaca dan pemirsa agar tidak menghasilkan berbagai opini yang salah.
Andai saya menjadi pemilik media, teruslah berinovasi dengan hal-hal baru dan kecepatan dalam menginformasikan atau menyiarkan agar pembaca atau pemirsa tetap setia dengan media tersebut. Akan tetapi, tidak melupakan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, kontrol sosial, dan hiburan, serta menjunjung tinggi Kode Etik Jurnlistik.
Andai saya menjadi pemilik media, akan memperhatikan kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitar media kita. Mereka sudah menuangkan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk ikut serta dalam membangun dan mengembangkan media. Tanpa mereka, media ini tidak dapat berdiri begitu saja.

Selasa, 20 September 2016

KASIH SAYANG TAK TERGANTIKAN
Matahari yang menyinari di pagi hari dan bulan bersinar pada malam hari. Namun, hanya ada satu cahaya yang selalu bersinar di hatiku. Cahaya itu adalah kasih sayang seorang ibu kepada insan permata.
Kasih sayang yang tak kenal lelah, tanpa mengharapkan balasan dan tak akan terbalas. Bahkan kasih sayang seorang ibu mampu merelakan nyawanya, demi sang anak akan tetap bertahan hidup. Sadarkah seorang anak akan kasih sayang seorang ibu yang begitu besar?
Kehadiranku di dunia ini berasal dari benih-benih cinta antara ibu dan ayah. Benih-benih yang menghasilkan berupa tetesan mani, menjadi seguumpal darah, hingga segumpal daging dan segumpal daging membungkus tulang. Kemudian Tuhan meniupkan ruh kepada setiap insan.
Sembilan bulan ibu mengandung. Saat itu pun aku berada di dalam rahimnya. Ibu melalukan pengorbanan dengan susah payah, melawan rasa mual yang membuat nafsu makannya berkurang dan perutnya semakin membesar. Sehingga berat badannya melonjak.
Ketika lelah menghampirinya dalam setiap langkah, ibu pun menghelakan nafas dan butir-butir keringat yang bercucuran penuh di keningnya. Sembari menghilangkan rasa lelah, tangan yang lembut itu mengelus perut besarnya dengan penuh kasih sayang dan iringan doa, hingga sampai saat waktunya tiba.
Erangan, jeritan, dan tangisan kesakitan sampai pengorbanan nyawa, ibu melakukannya untukku sampai terlahir di dunia ini. Itu semua terjadi berkat keikhlasan dan kesabarannya.
Seorang bayi suci tanpa dosa lahir dari rahim seorang ibu yang telah berjuang. Terdengar suara tangisan bayi yang begitu kuat. Nampak senyuman kecil mengembang di bibirnya dengan terbaring lemas di atas tempat tidur. Ayahku segera mengumandangkan adzan dan iqomah di telangiku.
Seiring dengan berjalannya waktu, ibu mendidikku hingga tumbuh besar. Terlintas dalam pikiranku, kehidupan ini seperti panggung sandiwara. Namun hanya ada satu tokoh yang bisa berperan melakukan apa saja untuk diriku. Tokoh itu adalah ibuku.
Ibuku telah banyak menjalani peran di kehidupan ini dalam mendidik anak-anaknya. Salah satu peran ibuku yaitu bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya.
Ibuku selalu setia menemaniku saat sakit. Kehadiran rasa sakit telah merenggut kecerian buah hatinya. Hal ini membuat hati ibuku hancur berkeping-keping, melihat tubuh anaknya terbaring lemas tak berdaya di tempat tidur karena penyakit yang menjangkitnya. Siang dan malam, hati dan pikiran ibuku terambang oleh kegundahan dan kekhawatiran.
Saat itu, aku tak lagi berdaya untuk menatap wajah ibuku. Air mata tak lagi terbendung, kini telah tumpah ruwat membasahi pipinya. Hanya seuntai kata “maaf” yang terucap pada bibirku karena telah membuat ibuku menangis.
Tidak hanya saat sakit ibuku menemaniku, tetapi dalam keadaan senang pun ibu tetap selalu berada di sisi dan dalam hatiku.
Selain itu, ibuku menjadi sosok pendengar setia. Telinganya selalu bersedia mendengarkan curhatan isi hatiku, entah itu kesenangan ataupun keluh kesah yang kurasakan. Lain halnya dengan ibuku, tidak pernah sedikit pun telingaku mendengar curahan keluh kesah  hatinya yang terlontar dari mulutnya.
Bahkan ibuku dapat menahan isi hatinya akan lelah mengasuh keempat anaknya. Nampak jelas kerutan di dahinya, bertanda ia lelah karena ibuku yang semakin menua. Namun, kantung mata yang menghitam pun masih mampu menahan bendungan air mata yang tak ingin menunjukan kesedihan pada anaknya.
Ibuku tidaklah hanya menemani dan pendengar setia bagiku. Akan tetapi, ia juga menjadi penasehat, memberikan contoh prilaku dan sikap yang baik dalam mendidik anaknya dengan penuh kelembutan hati dan kasih sayangnya.

Inilah ibuku yang sangat kucinta, sahabatku sepanjang masa. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu di dalam hatiku. Engkau selalu memberi kasih sayang yang tak pernah putus asa.